+62 21 520 1602 pappiptek@mail.lipi.go.id

Kegiatan Pappiptek

 

Detail Kegiatan Pappiptek

: Media Briefing Buku Gender dalam Iptek

: 2018-03-16

: Media Center LIPI

Kesetaraan dan keadilan gender dapat menjadi upaya strategis dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan, berkeadilan, dan maju. Oleh karena itu, pemahaman tentang konsep gender dalam pembangunan iptek harus dimiliki oleh berbagai pelaku iptek.

Upaya pengarusutamaan gender dalam bidang iptek harus dilakukan secara berkesinambungan. Pemahaman tentang gender harus terus disosialisasikan agar semua pemangku kepentingan memahami adanya  berbagai isu gender dalam iptek, dan sekaligus memberikan solusi atas isu-isu tersebut terutama yang memunculkan ketimpangan gender dalam iptek.

Media Briefing ini dihadiri oleh empat narasumber yang merupakan penulis dalam buku tesebut yaitu :

Ibu Wati Hermawati yang melihat sudah ada kemajuan pesat dalam program-program pembangunan berperspektif gender yang dibuat oleh pemerintah. Namun masih ada ketimpangan gender yang terjadi, hal tersebut yang dibahas dalam buku ini. Bila ketimpangan ini tidak ditulis, bisa jadi tidak akan terlihat, itulah yang mendorong menulis buku tersebut.

Ibu Nani Grace mengulas tentang porsi gender di bidang yang berkaitan dengan engineering, diantaranya jumlah perempuan yang bekerja di industri manufaktur tiap tahunnya terus meningkat, hal ini ditemukan dari olahan data hasil survey litbang di industri manufaktur. Hal yang menarik adalah, walaupun perempuan memiliki gelar sarjana dari bidang sains, masih banyak yang bekerja sebagai tenaga administrasi, bukan peneliti.

Ibu Chichi Shintya memaparkan tentang definisi iptek menurut laki-laki dan perempuan ternyata sama, tapi minatnya berbeda. Ketertarikan perempuan untuk bekerja di sektor iptek itu lebih rendah dibanding laki-laki. Perempuan lebih memahami iptek di bidang-bidang yang mereka sukai seperti kesehatan, pendidikan, sementara laki-laki lebih menyukai bidang seperti militer, teknologi, dll.

Ibu Ade Latifa mengangkat tentang kesetaraan gender dan bagaimana dengan kesehatan maternal migran. Bahwa perempuan migran lebih rentan terhadap berbagai permasalahan daripada laki-laki. Faktor budaya juga sangat mempengaruhi akses perempuan terhadap layanan kesehatan. Keputusan untuk memanfaatkan layanan kesehatan maternal tidak saja dipengaruhi keadaan ekonomi dan ketersediaan sarana prasarana, namun juga dipengaruhi oleh hubungan gender. Serta perempuan sangat dipengaruhi oleh keputusan suami dalam memilih tempat bersalin, ikut serta dalam program KB, dan jaminan sosial kesehatan.