+62 21 520 1602 pappiptek@mail.lipi.go.id

Judul Penelitian

 

Detail Judul Penelitian

: 2016

: DIPA Pappiptek

: Perubahan Teknologi

: Kolaborasi Riset Internasional

:

Industri pengolahan non-migas merupakan penyumbang kontribusi terbesar produk domestik bruto (PDB). Artinya, sektor industri masih menjadi sektor andalan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Namun, perdagangan produk industri manufaktur Indonesia saat ini masih mengalami defisit. Bahkan kinerja perdagangan produk industri Indonesia dengan beberapa negara menunjukkan defisit yang cukup tinggi, di antaranya dengan Australia, China, Jepang, dan Korea Selatan. Saat ini komoditas yang neraca perdagangannya positif/surplus, hanya berupa bahan baku. Hal ini disebabkan karena struktur ekspor Indonesia masih didominasi oleh ekspor bahan mentah dan bahan setengah jadi yang tentunya memberikan nilai tambah rendah dibanding produk olahan industri, sedangkan industri yang sejatinya manufaktur justru lebih mengecil. Problem lainnya di sektor industri di Indonesia adalah munculnya gejala nyata dari deindustrialisasi, yaitu menurunnya peran industri dalam perekonomian secara umum. Bila menelusuri data BPS, kontribusi sektor industri manufaktur terhadap PDB sebenarnya mengalami tren penurunan sejak dekade lalu. Pada 2004, sumbangan industri manufaktur terhadap PDB mencapai 28,34 persen, turun dari tahun sebelumnya 28,84 persen. Kontribuasinya terus merosot dan posisi terakhir yang diumumkan BPS berada di angka 23,69 persen. Terjadinya fenomena deindustrialisasi ini jelas berdampak negatif bagi perekonomian Indonesia. Kondisi di atas terjadi karena masih lemahnya daya saing industri nasional dan belum kuatnya struktur industri nasional. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, hanya 31 persen produk industri nasional yang berdaya saing tinggi dan mampu bersaing di tingkat pasar ASEAN. Sedangkan daya saing Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara pesaing utama di kawasan ASEAN. Menurut kajian World Economic Forum (WEF) dalam The Global Competitiveness Report 2012-2013, Indonesia berada di urutan kelima di bawah Thailand, Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Sementara itu, pada saat MEA 2015 akan terjadi aliran bebas barang jasa dan tenaga kerja terlatih serta aliran investasi. Menteri Perindustrian menyatakan untuk mengantispasi hal tersebut di atas pemerintah akan menerapkan langkah strategis seperti mendorong pemanfaatan iptek, R&D dan inovasi teknologi industri yang berdaya saing tinggi. Namun hasil pengamatan selama ini menunjukkan masih rendahnya usaha industri untuk hal tersebut. Hasil survei yang dilakukan Pappiptek menunjukkan pembiayaan litbang Indonesia sebesar 74 persen masih disumbang oleh sektor pemerintah. Padahal, di negara lainnya peran swasta bisa mencapai 80 persen. Selain itu, keterkaitan/linkage sektor industri dengan lembaga litbang juga masih sangat rendah dan program pemerintah dalam bentuk riset unggulan kemitraan (lembaga litbang-industri) juga masih rendah partisipasi pihak industri.
\r\nRendahnya linkage antara industri dan lembaga litbang menjadi problem kunci untuk mengembangkan sistem inovasi di Indonesia. Menurut Marthin Bell (ahli kebijakan iptek) rendahnya linkage tersebut dapat terjadi karena tiga kemungkinan. Pertama, karena kinerja lembaga litbang belum sesuai dengan harapan sektor industri. Kedua, karena struktur industri yag ada tidak membutuhkan peran litbang. Ketiga, karena kedua-duanya. Penelitian yang membahas lemahnya kinerja lembaga litbang dalam menunjang industri telah banyak dilakukan. Sedangkan penelitian yang melihat secara mendalam mengapa sektor industri di Indonesia kurang tertarik dengan iptek belum pernah dilakukan.


: kolaborasi, riset, internasional