+62 21 520 1602 pappiptek@mail.lipi.go.id

Judul Penelitian

 

Detail Judul Penelitian

: 2016

: DIPA Pappiptek

: Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Masyarakat

: Manajemen Pembiayaan Litbang di Lembaga Litbang Menuju Litbang kelas Dunia

:

Sesuai dengan kebijakan yang terkait dengan UU No 18/2002 yang arahnya mengubah paradigma unsur kelembagaan Iptek yang semula berorientasi kedalam bergeser kearah dan diimbangi dengan cara pandang berorientasi keluar. Cara pandang inipun mengalami pergeseran yaitu semula berorientasi pada penyelenggaraan oleh dan untuk kepentingan Negara, diimbangi dengan penyelenggaraan oleh dan untuk kepentingan masyarakat. Serta orientasi pada pemasok Iptek dengan ciri membangun kelembagaan yang berorientasi kepada kepentingan stackholder/pengguna dengan penekanaan upaya dalam memenuhi kebutuhannya. Hal tersebut terlihat pada penetapan program dan kegiatan Lembaga Litbang yang diarahkan hasilnya tidak hanya untuk memperkaya khasanah Iptek dengan berbagai inovasi/temuan baru yang sifatnya mendasar namun inovatif pada berbagai bidang dan disiplin iptek melalui sentuhan iptek yang diantaranya melalui pemasyarakatan, pelayanaan, dan komersialisasi yang memiliki tingkat manfaat ekonomi maupun sosial. Berbagai tantangan lembaga litbang Pemerintah dan Perguruan Tinggi yang dihadapi Unit litbang dimasa sekarang adalah: (1) Mensukseskan pencapaian Millenium Development Goals (MDGs) pada tahun 2015; (2) Perubahan Iklim Global (Climate Change) dan Lingkungan Pemanasan Global dan variabilitas iklim yang berujung pada pengurangan tingkat emisi secara signifikan; (3) Pencarian Sumber Energi Pengganti Fosil melalui pengembangan berbagai sumber energi terbarukan dan energi alternatif; (4) Kemajuan Ilmu Pengetahuan Mendasar (Basic Sciences) seperti dalam bidang fisika, biologi molekular, bioinformatika, serta material di masa kini dan apalagi di masa depan akan membawa dampak yang jauh melampaui perkiraaan di masa lalu. Untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut, maka kemampuan suatu unit litbang sangat penting untuk memberikan kontribusi terhadap produk dan reputasi dalam organisasi litbang sehingga suatu organisasi litbang dapat dikategorikan sebagai organisasi litbang kelas dunia. Produk yang dihasilkan oleh organisasi litbang merupakan kinerja dari organisasi litbang tersebut. Untuk mengetahui kinerja organisasi litbang yang dikategorikan kelas dunia diperlukan suatu penilaian dengan kriteria tertentu yang dianggap sesuai dengan kriteria organisasi litbang kelas dunia. Kinerja ini dapat ditunjukkan dari informasi tentang kinerja suatu organisasi litbang dapat digunakan untuk mengevaluasi apakah proses kerja yang dilakukan organisasi litbang tersebut sudah sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Informasi seperti ini sangat diperlukan karena kenyataannya masih banyak organisasi yang kurang memiliki informasi yang lengkap tentang kinerja dalam organisasinya. Kinerja unit litbang yang menuju Litbang berkelas dunia ditunjukkan oleh kemampuan nya dalam pengembangan iptek disamping itu hal yang lebih penting lagi mampu mengelola pembiayaan dan dana yang sangat terbatas. Pembiayaan penelitian dan pengembangan nasional (gross expenditure on research and development) yang menjadi indikator ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) Indonesia menunjukkan peningkatan selama empat tahun terakhir. Dari semula 0,08 pada tahun 2009 menjadi 0,09 persen pada 2013. Namun, angka itu masih di bawah target Masterplan Percepatan dan Perluasan pembangunan ekonomi Indonesia (MP3EI) yang dipatok 1 persen. Peningkatan biaya Iptek sangat menyulitkan Indonesia bersaing dengan negara lain. Namun kenyataannya, penelitian dan pengembangan (Litbang) belum menjadi prioritas utama penggerak perekonomian Indonesia untuk mendorong produktivitas masyarakat melalui riset. Sebetulnya anggaran litbang mengalami kenaikan tiap tahun, tetapi pertumbuhan ekonomi yang cepat dibandingkan dengan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) membuat rasionya menjadi kecil. Angka itu juga makin kelihatan kecil bila dibandingkan Malaysia yang membelanjakan 1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) untuk pembiayaan Litbang. Sedangkan Thailand sekitar 0,25 persen dan Singapura mencapai 2,1 persen. Selain itu, pembiayaan Litbang Indonesia sebesar 74 persen masih disumbang oleh sektor pemerintah. Padahal, di negara ASEAN lainnya peran swasta bisa mencapai 80 persen. Diharapkan Indonesia mampu meningkatkan rasio ini agar mampu mengejar ketertinggalan dari negara lain di kawasan ASEAN. Dengan pembiayaan yang sangat terbatas itu Lembaga Litbang dan Perguruan Tinggi harus mampu berkembang menghasilkan hasil-hasil penelitian yang sangat dibutuhkan oleh pengguna / industri / bisnis terutama juga menghasilkan paten serta bentuk-bentuk lain perlindungan hak atas kekayaan intelektual (HAKI) yang diberikan kepada penemu guna melindungi hasil temuannya. Disamping terbatasnya pembiayaan, faktor utama lain dalam pembiayaan adalah jangka waktu pembiayaan yaitu mekanisme pembiayaan Litbang tidak bersifat tahunan.


: manajemen, pembiayaan litbang, lembaga litbang, kelas dunia